RSS
Sampingan

Buatku selesai adalah selesai. Diikuti titik, bukan koma.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2015 in Uncategorized

 

Sepasang Sandal

Apa cuacamu malam ini? Bukankah dulu kita sering saling menyapa kabar begini? Kamu yang mengolah segala sesuatu di dunia ini dengan kongkret, akhirnya terjebak masuk ke dalam duniaku yang abstrak. Penuh metafora. Dan dari wajahmu, kusimpulkan kau bahagia.

Cuacaku malam ini berkabut. Mungkin gara-gara memaksakan diri menyeruput sekotak jus mangga yang telah habis. Sisa-sisa aroma mangganya menyelusup ke dalam rongga memoriku. Berubah wujud menjadi sebait prosa. Prosa ini bisu jika kau tak membacanya. Dan prosa ini tetap bisu kalaupun kau membacanya. Karena kita. Tak ‘kan pernah lagi saling berbicara.

Aku mengingat cerita tentang sepasang sandal.

Saat itu katamu, kau punya sebuah sandal yang hanya sebelah. Kau mengaku telah sejak awal kau memilikinya ia hanya sebelah. Aku tertarik mendengar ceritamu. Dan semakin berbinar-binar saat kau menyebutkan warnanya. Biru. Warna kesukaanku, yang juga ternyata kesukaanmu. Dan aku juga kebetulan punya sebelah sandal yang hanya sebelah sejak awal ku memilikinya. Warnanya biru. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan.

Kita sumringah saat itu, membayangkan betapa asiknya jika kita menyatukan keduanya. Kita membayangkan betapa manisnya saat kedua sandal yang saling sebelah itu bersatu. Tersenyum menyambut kekasih yang telah lama dirindukannya di sebelahnya. Seperti tatapan kita yang entah bagaimana saling tersipu saat beradu.

Waktu dan tempat yang ditentukan telah tiba. Aku menenteng sebelah sandalku dengan suka cita. Ku dendangkan soneta terindah yang pernah ku nyanyikan. Rasanya melodi itu merdu betul di telingaku. Padahal sesungguhnya aku tidak pernah pandai menyanyi.

Ku lihat kau di kejauhan melambaikan tangan, berseru, “Hoiii!” panjang yang menyiratkan kegembiraan yang sama. Ketika jarak kita semakin dekat, wajah kita merona. Saling menundukkan pandangan malu-malu.

“Mana sandalmu?” tanyamu malu-malu. Sembari mengangkat lenganku ke udara di hadapanmu, ku tunjukkan sandalku yang menggantung di ujung jempolku. Beberapa detik berlalu. Ku lihat wajahmu masih memerah. Tetapi tak ku temukan senyum itu. Senyum yang selama ini ku idam-idamkan muncul di wajahmu yang teduh.

“Maaf .. ” gumammu pelan. Sendu.

Seketika ada rasa gelisah yang meracuni detak jantungku yang entah mengapa jadi berdebar lebih cepat. Takut-takut ku lirik sebelah sandal yang sedari tadi kau tenteng dengan tangan kananmu. Jemarimu mengeras.

Sandalmu berwarna biru, sama seperti milikku. Namun, ada dua garis merah yang menghiasi alasnya. Motif yang tidak ku temukan pada sandalku yang biru. Biru polkadot.

Cahaya dari binar mataku seketika meredup.

Sayup-sayup ku dengar kau bertanya sendu, “Bisakah kita melangkah menuju surga dengan sandal yang sebelahnya saling berbeda?”

Cimande, 15 Agustus 2015. Ditulis oleh Salma Fajariyyatunnisa.
“Kapan kita terakhir saling berbicara?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2015 in Uncategorized

 

Benar atau Salah, Meng-upload Foto Pribadi bagi Wanita di Media Sosial?

Sebenarnya, sudah lama aku menahan diri untuk tidak menerbitkan ‘isu sensitif’ ini, tapi.. mengingat faidah yang mungkin didapat banyak wanita setelah ‘terjebak’ masuk ke dalam blogku, akhirnya ku putuskan untuk nekat saja 😀

Tulisan ini tidak akan semenakutkan judulnya kok yang membuat kalian pasti tadi langsung membayangkan dalil dan hujjah-hujjah atas pro dan kontranya. Aku hanya ingin berbagi kisah dengan kalian.

Pengalaman pribadiku sendiri.

Hei, jangan manyun gitu dong. Kan ini blogku. Dari pada menjadikan orang lain sebagai korban penulis iseng ini. Mending bijaksana membongkar aib sendiri kan? Ceilee.. aib 😀

Aku ingin jujur pada kalian tentang satu hal.

“Pamorku turun setelah memutuskan meng-hide semua foto pribadiku di media sosial.”

………………………………………
………………………………………

Ting toongg .. ting toonggg .. Kalian kenapa? Kok jadi cengok begitu sih? 😀

Jujur saja, aku merasa heran dengan perubahan drastis pada dunia mayaku ketika keputusan itu ku ambil. Awalnya, aku hanya kehilangan banyak like di statusku, di foto-fotoku dan pembaca setia blogku. Lalu, yang benar-benar ku sadari kemudian adalah .. aku kehilangan banyak sahabat pena yang tahun-tahun sebelumnya akrab dan rajin menyambangi status-statusku. Dan. Begitu fokus shareku di timeline berubah, mereka jadi benar-benar seperti tak pernah mengenalku.

Apa aku merasa sedih?

Tidak. Aku sungguh merasa bahagia. Rasanya seperti kehilangan satu beban dari punggungku. Setidaknya aku telah berhasil menyingkirkan satu kesalahan terbesar yang pernah ku perbuat. ‘Teledor’ meng-upload foto pribadi dan membuatnya menjadi ‘angin surga’ bagi mata-mata yang tidak halal. Belum lagi membayangkan hati-hati yang mendamba diam-diam, sibuk mengingatku daripada sibuk berdzikir atau bertilawah. Ikhwan-ikhwan yang hati dan matanya suci kemudian terkotori karena kebodohanku. Apalagi saat teringat komentar seorang ikhwan di foto profilku, “Pagi-pagi senyumnya indah sekali ..”

Prettt.. ikhwan malang itu mungkin saat ini akunnya sudah ku blokir.

Alhamdulillahirrabil ‘alamiin..

Aku merasa penting untuk mengingatkanmu, Wahai Temanku. Aku merasa sedih sekali saat men-stalk akun media sosial seorang akhwat di facebook dan menemukan dirinya dipuja dan dipuji kaum adam yang entah apa niatnya. Akhwat itu terlihat sekali merasa bahagia dan balik menyapa ramah. Sayang sekali, walaupun hijab yang ia kenakan belum sempurna (dan tentu bukan patokan tentang haram halalnya meng-upload foto pribadi di media sosial. Akhwat muslim walaupun belum berhijab [karena belum tau atau segudang alasan mereka] tetap saja sama konsekuensi hukumnya), namun tanpa ia sadari, dirinya telah menjadi sumber petaka di persidangan akbar Allah kelak. Mungkin, ia belum tau, dan belum tercerahkan walau hidayah telah bertebaran dari segala penjuru mata angin. Ya, itulah hidayah. Ia sudah ada di mana-mana, namun tetaplah Allah yang menggenggam hatinya untuk menggerakkannya pada kebaikan. Tapi bukan berarti makhluk lemah seperti kita ini tidak usah berupaya, ikhtiar mencari hidayah wajib hukumnya, namun tetap diimbangi dengan doa kemurahan hati Allah untuk menggerakkan kita.

Kita doakan semoga akhwat itu mendapat hidayah, taufik, dan maghfirah Allah ya?

Dan aku berharap, bahwa kalian yang mungkin saat ini masih belum ‘ngeh’ agar segera ‘ngeh’. Anak muda memang tempatnya melakukan kesalahan. Tapi akan jauh lebih baik jika kita cepat tau salah agar cepat tau cara berubah. Semoga Allah memberikan kita hikmah 🙂

Aku jadi teringat pada beberapa ikhwan dan ibu-ibu yang bertahun-tahun lalu menaruh hati dan harapannya padaku. Aku tidak tau apakah mereka saat itu kemudian menyimpan foto pribadiku dalam data penyimpanan pribadi mereka. Aku tau aku salah. Dan aku kapok meng-upload wajahku di media sosial. Walaupun sebenarnya kangen selfie juga 😀 tapi akan lebih ‘jleb’ saat kita tau bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita. Sekuat itu kita ikhtiar berubah menjadi lebih baik, insya Allah ia juga akan menjadi kado terindah untuk kita nanti dari Allah. Tapi inget yaa.. niat berubahnya pelan-pelan nanti diubah lho ya. Buat Allah dan karena Allah saja. Jodoh mah cuma motivasi 😀

Ditulis oleh Salma Fajariyyatunnisa. Cimande, 08 Juni 2015.

P.S. Kalau kamu merasa tidak secantik itu untuk dapat menarik hati para ikhwan, coba deh periksa galeri foto di ponselmu. Seberapa banyak kamu eksis di sana?
Terlepas dari cinta itu terbit secara naluriah dan sunatullah, tapi yang perlu diingat adalah syaitan selalu tau cara menjebak cucu-cucu Adam. Kamu mungkin tidak berniat ‘menjebak’ teman-teman ikhwan media sosialmu, tapi masa kamu mau sih ‘terperangkap’ dalam jebakan batman yang kamu sendiri tidak sadar telah buat. Mau bilang apa nanti saat Allah meminta pertanggungjawabanmu atas dosa mata-mata non mahram yang tidak sengaja melihat wajahmu di home akun mereka?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 8, 2015 in Uncategorized

 

Dicintai Diam-Diam

Kau mungkin pernah sekali, atau berkali-kali dalam hidupmu menatap wajah Rembulan di hadapanmu. Kau mengetuk kusen jendela, berisik sedemikian rupa. Heboh berusaha mencuri perhatiannya. Begitu ia mengalihkan pandangannya ke dalam matamu, kau bertanya, “Pernahkah kau dicintai diam-diam?”

Dicintai diam-diam adalah kerinduan milik setiap wanita. Saat ia mengetahui bahwa pernah dahulu sekali ia diculik diam-diam dari rangkaian tulang rusuk pemiliknya, ia selalu mendamba. Bahwa suatu hari nanti, pemiliknya akan kembali, dan merengkuhnya tergesa dalam pelukan candu kekasih yang merindu. Maka, di setiap detik hidupnya. Bahkan dalam setiap gerak-geriknya, wanita akan selalu berpura-pura untuk dua hal. Yang pertama, ia akan berpura-pura sedang serius beraktivitas. Kedua, ia akan berpura-pura tak merasakan bahwa dirimu ada di balik punggungnya. Mengawasinya dengan tatapan cinta.

Itulah wanita, yang pandai membutakan mata dzahirnya, dan menajamkan mata batinnya. Ia selalu berharap kau ada di sana. Mengawasinya diam-diam. Mendambanya diam-diam.

Maka tak heran, saat ditanya begitu, Rembulan hanya menatapmu tak berkedip. Kemudian terbang dalam kelumit asanya sendiri.

Kau tak tau, sungguh kau tak tau, bahwa dirimu sendirilah, dirimu yang tiap malam setia menarik langkah ke kusen jendela demi mengajukan sebuah pertanyaan, mengeluh lesu menatap langit hari ini yang masih pekat, berbinar matanya saat menatap seberkas cahaya hari empat belas. Kau sendirilah, Wahai Bumi, yang sesungguhnya mencintai Rembulan diam-diam. Dan hanya Rembulan yang menyadari, bahwa dicintai diam-diam sama sekali tidak menerbitkan kegembiraan. Bukan karena kau belaga amnesia. Melainkan karena ia tau, bahwa saat tersadar nanti, kau sendirilah yang akan meraung-raung meratapi, cintamu yang terpisah jarak ribuan kilometer, yang cahayanya saja yang berpendar-pendar menghangatkan sepinya jiwamu. Sedangkan pelukannya, adalah sebuah keniscayaan.

Karena..

Persatuan Bumi dan Rembulan sungguh tak boleh terjadi. Atau, kalian berdua hanya akan membawa kehancuran.

Ditulis oleh Salma Fajariyyatunnisa. Cimande, 6 Juni 2015.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 6, 2015 in Uncategorized

 

Kangen

Hei, Kau. Iya, Kauuu.. tak perlu clingak-clinguk begitu. Aku tau, ini adalah tempat rahasia bagi kita untuk bertemu. Maaf karena sudah lama tidak menyapa dan membuatmu bertanya-tanya. Sungguh, tak ada niat terlintas di hatiku untuk melupakanmu. Bahkan, tanpa perlu kau tagih sumpah, kau adalah satu dan selalu yang akan kuingat dalam memoriku. Pembaca setia blogku 😉

Kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang seorang teman. Tema yang sangat humanis dan manis untuk disesap bersama secangkir teh panas di tengah malam Cimande yang dingin begini.

Suatu kali, pembina yayasan tempat aku mengajar pernah berkata bahwa saat kau merasa begitu dekat dan akrabnya dengan seseorang yang baru kau kenal, maka itulah pertanda, bahwa Allah menghadiahkan kalian bertetangga kelak di syurga.

Aku punya seorang yang seperti itu.

Dia bukan teman semasa sekolahku. Bukan pula tetangga yang baru pindah rumah ke sebelah.

Kami bertemu dalam sebuah kepanitiaan keagamaan di Masjid Raya Bogor. Komunitas pengajian Ummi Fairuz se-Bogor, istri tercinta dari guru mulia kita Buya Yahya, yang didominasi oleh kaum ibu. Kutemukan ia datang kemudian. Gadis remaja sebayaku. Yang membuatku akhirnya menghela napas lega karena jadi merasa punya teman, hehe.

Aku mencuri-curi pandang, kemudian melempar senyum sapaan, tanpa berani menyentuh pundaknya dan berkenalan. Aku terlalu pemalu untuk melakukannya walaupun dua tahun ini sudah bekerja part time di sebuah LSM. Teori-teori keramahan dan segala tentang komunikasi itu, seperti menguap begitu saja.

Dia membalas senyumku, bertanya basa-basi tentang asal majelis pengajian Ummi yang mana yang biasa kuhadiri. Kemudian sibuk dengan teman semajelisnya. Terbayang kan bagaimana kecutnya senyumku dicueki begitu? 😀

Tak disangka. Kami kemudian justru jadi mulai saling menanyakan kabar (terutama saat itu terkait event akbar yang kami jalani), saling mengirim sms perhatian, hingga belakangan ini minta dicarikan jodoh 😀 aku yang pendiam padahal aslinya pecicilan ini jadi punya teman baru yang sama rempongnya.

Tapi akhir-akhir ini kami mulai jarang mengobrol, dan tiap ku-stalk medsos yang ia pakai, ku temukan banyak keluhan dan kegalauan. Aku jadi khawatir..

Insya Allah, segera kami akan bertemu dalam pengajian bulanan Ummi. Semoga ia tetap seceria, sepecicilan itu, dan semoga Allah mengangkat kesusahannya, melimpahi keberkahan atas hidupnya, rezeki yang lancar, cinta yang menentramkan, keluarga yang harmonis, ibadah yang nikmat, kesehatan yang awet.

I do miss her.

Cimande, 04 Juni 2015. Ditulis oleh Salma Fajariyyatunnisa. Kenapa dua hari ini telapak kaki kananku sakit ya? Apa karena terlalu lama membawa motor dalam kemacetan baru Jl. Raya Sukabumi karena proyek pengecoran jalan itu?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2015 in Uncategorized

 

TOTO CHAN ADA DI SEKITAR KITA

*Tulisanku kali ini secara khusus ku persembahkan kepada rekan-rekan pengajar muda Kampung School (kalau boleh aku ‘culangung karena tidak memanggil Kakak’ seperti biasa, hehe).

………………………………………………………………………

If I must say, it was a great day.

(Was means hari-hari menghilang dari Kampung School yang dipusingkan dengan skripsi yang nggak kelar-kelar 😀 uppss menyindir diri sendiri)

Cimande, 03.06.2015

Hal yang ingin Al share kali ini adalah mengenai metoda pendidikan anak yang selama ini Al amati sembari mengaji di sebuah pesantren tradisional, Bakom-Ciawi, dan semoga kelak kita bukan hanya berprofesi sekedar menjadi Pemerhati Pendidikan Anak (yang benar-benar hanya memperhatikan diam-diam, mencatat diam-diam, kemudian do trial eror to ones’ kids), tapi kelak sungguhan menjadi PEMERHATI – KONSULTAN PENDIDIKAN ANAK, aamiin ya rabbal’alamiin..

Jika sejenak kita mundur setahun ke belakang, abang Rizal pernah menginstruksikan agar kita mengomposisikan variasi usia kelompok belajar anak-anak Kampung School yang kita bina dengan tujuan agar anak yang usianya lebih tua dapat lebih ngemong, murah hati dan percaya diri, saat membagi ilmu. Sedangkan anak yang usianya lebih muda dapat lebih berani, percaya diri, dan termotivasi untuk sepandai Sang Kakak tutor. Dan kita semua tau, bahwa pembiasaan ini tidaklah berjalan lama lantaran berbagai faktor internal dari anak-anak itu sendiri.

Al terharu karena baru sekarang, Al bisa merasakan manfaat energi positif ‘berbagi’ dan ‘menerima’ ilmu di tempat Al mengaji.

Ustadzah kami, seperti sengaja betul memposisikan situasi ini. Kami terdiri dari berbagai usia dalam setiap kelompok mengaji, berkisar dari usia balita (2 thn) hingga usia dewasa. Semua anak memang selalu mendapat kesempatan ‘bertatapan langsung’ dengan ustadzah kami, namun beliau biasanya membagi tugas setoran hapalan-hapalan tertentu pada anak-anak yang lebih pandai.

Seperti hari ini.

Al mengamati seorang bocah lelaki (hanya anak-anak yang belum baligh yang boleh ikut kelompok mengaji ini. Tahap selanjutnya, ia mesti mondok di pesantren khusus ikhwan) usia Sekolah Dasar yang sedang setoran hapalan surah-surah Al Qur’an dan kitab ‘Aqoid (kitab tentang tauhid yang setiap anak-anak salafiah wajib menghapalnya) kepada anak usia Sekolah Menengah Atas. Sang Kakak ‘menikmati’ betul menjadi mentor, walaupun ia hapal, ia tetap tawadhu mengecek pada lembar kitab, sesekali ia membetulkan dan memberi kesempatan Sang Adik untuk mengintip kitab. Sedangkan Sang Adik ‘menikmati’ betul diayomi dan diarahkan Sang Kakak.

Al pun hari ini mendapat giliran. Tidak merasa cukup pandai sebenarnya karena yang diayomi adalah anak yang sudah pandai dan lebih dahulu tau. Untuk anak semodel itu, tentu logikanya tidak ada yang bisa Al lakukan kecuali sekedar mengecek hapalan pada lembar kitab, namun rupanya di sinilah proses ‘bertukar ilmu’ itu bermakna.

Pemahaman tajwidnya sudah ‘cool’, begitu pula dengan hapalannya. Hanya saja, makhrajnya masih tergelincir. Al berusaha positive thinking bahwa dialek local yakni Sunda, membuatnya agak kesulitan untuk membedakan bunyi huruf-huruf yang hampir mirip. Berbeda dengan Al yang walaupun tidak sejago kak Agus, kak Irman dan kak Dhani, namun setidaknya bisa membedakan bunyi huruf lantaran sejak kecil terbiasa tidak membawa dialek daerah dan memang belajar secara khusus makhraj (phonetic dalam bahasa Inggris) di jurusan Sastra Inggris. Al merasakan betul, beliau terkejut saat Al yang masih ‘anak kemarin sore’ ini berani mengarahkan dan membetulkan mahkrajnya, namun Al yakin sekali bahwa ‘insiden tak terduga’ itu membuatnya belajar dan berusaha lebih baik lagi ke depannya.

Dan, hari ini menjadi berlipat special dengan hadirnya seorang balita perempuan bermata Jepang :)) berkerudung pink (2 thn). Bocah itu lucu sekali, berjalan cepat-cepat mengikuti mamanya melintasi kerumunan kakak-kakak yang sedang mengaji. Gadis mungil itu duduk di samping mamanya dan sigap mengambil bangku kotak untuk tempat ia meletakkan juz ‘ammanya. Sambil mencuri-curi pandang pada kakak-kakak di sana, ia memegang tuturutan dan menunjuk sembarang huruf hijaiyah sembari ikut mengulangi lafalan huruf hijaiyah yang mamanya arahkan. Gadis mungil itu bahkan berlatih menghapal surah Al Fatihah walaupun konsentrasinya mudah sekali buyar karena dia sibuk memperhatikan keramaian di sekitarnya. Duh, rasanya gemassssss.. sekali. Gatel deh, Al pengen cubit pipinya dan culik dia ke pangkuan Al. Lihat deh, dia sedang belajar membiasakan dirinya larut dalam budaya positif. Mamanya sedang mengajarinya untuk cinta mengaji :))

Pengalaman ini membuat Al termenung, betapa bagusnya pendidikan formal kita kalau bermetode seperti ini. Metode yang pernah kita baca bersama-sama dalam novel gadis kecil ‘Toto Chan’, YANG RUPANYA tanpa kita sadari sudah lama dipraktekkan oleh para orangtua kita.

Pertanyaannya sekarang adalah, WHAT COULD WE DO NOW? Semoga tidak terlalu terlambat untuk melek dan mempengaruhi lingkungan agar menjadi lebih baik lagi (ini kan moto LSM sekali 😀 ).

Ditulis oleh Salma Fajariyyatunnisa (Poetri Hindia). Hari ini surprise sekali karena banyak mendapatkan suntikan sugesti positif. Doakan skripsiku kelar tepat waktu ya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 4, 2015 in Uncategorized

 

Sebuah Senyuman

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ku bagi padamu dari pada sekedar sebuah senyuman. Tentang harapanku, tentang ketakutanku, tentang kegelisahanku, tentang sebalnya aku padamu, juga tentang rasa kecewaku. Tapi.. aku tidak bisa lagi melanjutkan kata-kata. Bibirku telah kelu dan dikuasai air mata yang datang tanpa diundang bahkan tanpa isakan. Entah juga kelu yang dikuasai rasa kecewa. Tapi kecewa pada siapa?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2015 in Uncategorized

 
Sampingan

Aku sudah cukup bahagia menjadi putrinya Apa. Menikah, memang sebuah desakan yang kuat. Tertanam di dalam sanubari terdalam. Terus membayang-bayang, menggema-gema di dalam kepala, tetapi.. diperlukan sebuah proses yang panjang.. pengenalan jati diri, introspeksi diri..

Semestinya cinta, ia malu pada Sang Maha Cinta.

Di luar sana, bertebaran akhwat yang lebih kompeten, lebih unggul, lebih memungkinkan untuk diambil sebagai istri. Intan-intan yang telah digosok, dipulas. Berbinar-binar. Ingat Wahai Diri. Dirimu siapa?

Persembahkan senyum terbaikmu. Biar saja air mata berlinang-linang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2015 in Uncategorized

 

Mimpimu, Jalan Hidupmu

images (4)

Oleh: Poetri Hindia

“Sesuaikan arah mata angin tempat tujuanmu. Saat kau tepat memilih arah, saat itu pula kau tepat berjalan di lajur yang kau inginkan.” – Poetri Hindia

Gelombang arus mimpi terkadang menuai kontroversi, entah itu dijabarkan dalam konflik batin maupun lingkungan. Hanya saja, sadar atau tidak, satu mimpi yang pernah kita ucapkan di masa lalu justru tertanam secara paten dalam lajur takdir kita. Orang bilang, takdir adalah pilihan Tuhan. Tidak, sesungguhnya kita sendirilah yang memilih takdir kita. Percaya atau tidak, apapun yang telah kita lalui, kita baca, kita dengar, sesungguhnya merupakan sebuah rute panjang yang akan mengantarkan kita pada mimpi yang di masa kanak-kanak pernah kita ucapkan. Mimpi bagi saya adalah kompas hidup yang mengantarkan saya pada hal yang ingin saya capai. Mimpi adalah batu bangunan pertama yang saya letakkan sebagai batu awal saya membangun rumah. Rumah idaman saya, tentu sesuai dengan jenis batu pertama yang saya letakkan.

Dalam teori Fisika Kuantum dikatakan bahwa, jarak pantulan bola basket yang Anda pantulkan ke tembok berbanding lurus dengan jarak pantulan bola kembali pada Anda. Hal inilah yang di kemudian hari menjadi dasar teori penanaman sugesti. Teori yang bahkan sudah sejak berabad-abad lalu digunakan oleh banyak orang hebat sepanjang sejarah semisal Napoleon hingga Rasulullah Muhammad saw. Penanaman sugesti yang kuat inilah yang kemudian menjadi tonggak awal kesuksesan terealisasi. Di sinilah terjadi keterkaitan yang erat antara mimpi, kompas, dan hasil. Saat Anda teramat yakin dapat mewujudkan mimpi yang Anda tanam dalam benak, maka sinyal sugesti yang Anda lontarkan ke semesta raya akan mengirimkan respon yang kemudian menjelma menjadi kompas Anda dalam meniti jalan meraih hasil yang diharapkan. Maka, inilah saat yang tepat bagi Anda untuk sejenak memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan kembali menjelajahi belantara pikiran yang ada dalam benak Anda. Temukan mimpi yang sesungguhnya ingin Anda raih. Apa ia? Bagaimana ia? Ia berkerlap-kerlip di antara keriuhan pikiran Anda. Cahayanya tak pernah padam. Ia berpendaran ke segala penjuru.

Cimande, 27 Juli 2013.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 19, 2015 in Sastra

 

Bimbang

Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam tlah datang
Terkadang ingin ku tulis semua
perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
persimpangan jalan yang sulit kupilih

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa namun ada yang hilang
separuh
diriku

#Bimbang_Melly Goeslaw

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 22, 2014 in Uncategorized